oleh

Syech Maksum dengan Misteri Randu Lawang

KEDIRI | optimistv.co.id – Mungkin belum banyak yang mengetahui bahwa di Desa Bulu, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, ternyata terdapat sebuah makam keramat yang merupakan keturunan dari Sunan Gunung Jati (Raden Syarif Hidayatulloh dari Cirebon).

Jika meruntut cerita sejarah perjalanan masa lalu, sebelum dan sesudah penjajahan Belanda hingga penjajahan Jepang, telah banyak para Suhada’ yang gugur ketika berjuang melawan penjajah.

Pada zaman pemeluk agama Islam di Indonesia belum begitu banyak seperti sekarang ini, para ulama’ atau syech diberikan tugas untuk menyebarkan agama Islam di berbagai pelosok negeri, termasuk di tanah Jawa.

Kegiatan Jam’iyah Dzikrul Ghofilin di Makam Syech Maksum

Sampai saat ini warga masyarakat mayoritas hanya mengetahui kiprah dari Wali Songo yang telah berhasil melakukan syiar Islam di tanah Jawa. Sementara itu, untuk tokoh-tokoh lainnya terkadang tidak banyak yang mengetahui asal usulnya dan bagaimana kiprahnya dalam melakukan syiar agama.

Kali ini Tim KRAMAT (Kisah Ringkas Asal Nama Tempat) Optimis berusaha mengungkap salah satu makam keramat di Desa Bulu, tepatnya berlokasi di Dusun Karangdoro, yang dikenal warga setempat sebagai Makam Mbah Maksum, atau Syech Maksum.

Dusun Karangdoro merupakan salah satu dusun di Desa Bulu, Kecamatan Semen. Sedangkan di desa tersebut memiliki lima dusun, empat lainnya adalah Dusun Ngawinan, Bulusan, Bogo, dan Dusun Gapuk.

Pada edisi ini Tim KRAMAT akan mengulas terkait Dusun Karangdoro, atau lebih dikenal warga masyarakat dengan nama Randu Lawang, dan menjadi tempat dimakamkannya Syech Maksum.

Menurut cerita para sesepuh Desa Bulu, Syech Maksum merupakan pesiar agama Islam di daerah Kediri semasa masih jaman kerajaan. Beliau merupakan seorang ulama dari Cirebon yang juga keturunan dari Syekh Maulana Syarif Hidayatullah, atau lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati.

Hal itu dibenarkan oleh Mbah Manaf, sesepuh Desa Bulu ketika dikonfirmasi Tim KRAMAT Optimis, didampingi Khusen, Kepala Dusun Karangdoro. Menurut Mbah Manaf, sebelum meninggal Syech Maksum juga mempunyai banyak kitab asli tulisan tangan yang terbuat dari kulit, dan bertuliskan huruf Arab.

“Sampai sekarang beberapa kitab-kitab peninggalan milik Syech Maksum yang terbuat dari kulit itu juga masih ada dan kami rawat dengan baik. Di antara kitab-kitab tersebut adalah Fiqih, Sorof, dan lain sebagainya, bahkan juga ada kitab kanuragan,” tutur Mbah Manaf.

Ditambahkan Mbah Manaf, di daerah makam Syech Maksum ini mayoritas orang lebih mengenal dengan nama Dusun Randu Lawang. Padahal sebenarnya di Desa Bulu tidak ada sebuah dusun dengan nama tersebut.

“Di daerah sini biasanya warga masyarakat menyebut Dusun Randu Lawang, padahal sebenarnya disini masuk Dusun Karangdoro. Dan Randu Lawang itu hanya merupakan sebuah sebutan saja, tidak masuk dalam struktur pemerintahan Desa Bulu,” ungkapnya.

Mbah Manaf sedang memimpin Jam’iyah Dzikrul Ghofilin di Makam Syech Maksum

Mbah Manaf mengaku tidak tahu kenapa daerah tersebut dijuluki dengan sebutan Randu Lawang. Apalagi di sekitar tempat itu juga tidak pernah terlihat adanya pohon Randu (Kapas).

“Di sekitar area Mushola Al Muhtar atau Makam Mbah Maksum ini juga tidak ada pohon Randu, tapi entah kenapa dari dahulu daerah ini dinamakan Randu Lawang. Disini yang ada malah pohon Sawo. Mungkin yang mengetahui filosofi dari Randu Lawang itu hanya Mbah Maksum saja, sehingga sejak dahulu tidak pernah ada yang menceritakan kenapa dinamakan begitu,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dusun Karangdoro, Khusen kepada Tim KRAMAT Optimis mengatakan, di Makam Mbah Maksum ini ada sebuah pendapa yang setiap hari Sabtu Pon rutin dijadikan Jam’iyah Dzikrul Ghofilin.

“Setiap malam Sabtu Pon seperti ini, kebiasaan warga setempat melakukan Dzikrul Ghofilin dan do’a bersama. Jamaah yang mengikuti kegiatan ini bukan hanya dari Desa Bulu saja, melainkan juga dari desa lain,” terang Khusen.

Selain itu, khususnya pada malam Jum’at juga banyak warga yang datang ke Makam Syech Maksum untuk bertawasul, dan memanjatkan do’a, atau guna ngalab berkah. Bahkan pada bulan Muharram (Suro), biasanya juga ada peziarah yang datang dari Jawa Tengah maupun Jawa Barat, dan mayoritas dari Cirebon.

Reporter Puji Salam

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed