oleh

Mengintip Komunitas Musala yang Menjelma Jadi Lake’ Percussion

PROBOLINGGO | optimistv.co.id – Lake’ Percussion merupakan salah satu kelompok Musik Daul yang sedang naik daun. Namun siapa sangka kalau perjalanan Lake’ Percussion hingga menjadi seperti sekarang ini ternyata dipenuhi lika-liku. Berawal dari komunitas Musala hingga sekarang menjadi Lake’ Percussion memang terdengar seperti banting setir. Tetapi, hal itu tak membuat Lake’ Percussion kehilangan jati diri.

Lake’ Percussion berdiri tahun 2011 di Kota Probolinggo. Kelompok musik ini diketuai oleh Nur Fajar Suryawan (51) dan dibina oleh Asmad (57). Lake’ Percussion berlatih di kediaman Asmad, tepatnya di Jalan K.H. Ahmad Dahlan Gang Goni Nomor 23 RT.2/RW.1, Kelurahan Kebonsari Wetan.

Selain itu, mereka juga sering berlatih di halaman musala terdekat. Komunitas Musala ini awal mulanya adalah Jamaah Hadrah yang beranggotakan 15 orang. Sekarang Lake’ Percussion telah memiliki 40 orang anggota yang terdiri dari anak-anak sekolah dari berbagai jenjang pendidikan.

Menurut keterangan Asmad, awalnya komunitas Musala tersebut anggotanya hanya orang dewasa. Bahkan bisa dibilang tua semuanya.

“Dulunya, kami awali cuma dengan beberapa orang saja, dan itupun yang seumuran saya. Makanya tidak ada gregetnya,” ujar pria berkaus putih itu saat wawancara di kediamannya.

Berkat perjuangan generasi pertama Lake’ Percussion, sekarang Kelompok Musik Daul ini dipenuhi remaja yang menyukai Kesenian Islami.

Ekspresi bahagia tergambar di wajah remaja Lake’ Percussion saat memainkan alat musik. Saking semangatnya, kaki pemain yang memandu teman-temannya terangkat ke udara. Keringat mereka juga bercucuran dan sedikit demi sedikit menetes membasahi tanah. Dada dan gendang telinga pendengar berdentum kencang mengikuti irama musik. Kaki pun ikut berhentak.

Sebagai Pembina, Asmad mengaku kalau remaja-remaja ini belajar alat musik secara otodidak.

“Karena kepekaan anak-anak, tadinya melihat YouTube. Terus ada yang mencari not lagu. Ada 3-4 orang yang pegang banyak instrumen sekaligus ngajarkan ke teman-teman lainnya,” ujar Asmad.

Musik yang keras namun tak menganggu warga sekitar. Lake’ Percussion sudah mengantongi izin dari RT/RW setempat. Kebetulan, ketua Lake’ Percussion Fajar yang menjadi Ketua RT. Jika melihat situasi di lapangan, masyarakat banyak yang antusias dengan latihan Lake’ Percussion. Terbukti mereka memadati sekitar rumah Asmad, tentu saja dengan protokol kesehatan yang berlaku.

Tak hanya remaja, bapak-bapak, ibu-ibu, bahkan anak-anak pun menonton. Saking banyaknya anggota Lake’ Percussion, Asmad dan Fajar sempat dicemooh karena dianggap mengeksploitasi remaja-remaja ini. Padahal aktivitas ini sebagai upaya untuk menghindarkan para remaja dari narkoba dan minuman keras.

“Motivasi dibentuknya Lake’ Percussion itu karena kami tidak mau anak-anak remaja berkeliaran di jalan, bergerombol, dan merusak,” kata pembina yang akrab disapa Pak Mad ini.

Sementara itu, Kelabang Sanga menjadi pemicu Lake’ Percussion dioptimalkan. Dimulai dari pemilihan nama Lake’ Percussion. Lake’ diangkat dari Bahasa Madura yang berarti laki-laki, ternyata juga menjadi akronim dalam Bahasa Jawa. ‘La’ adalah singkatan dari lare yang memiliki arti anak-anak dan ‘ke’ adalah Kebonsari. Jika disambung akan terbentuk makna ‘Anak-Anak Kebonsari’.

Seperti banyak cerita perjuangan lainnya, Lake’ Percussion juga dimulai dari nol. Awalnya, Lake’ Percussion hanya memiliki alat musik tiga bonang, satu kendang, gong, dan sronen. Gerobaknya masih diseret. Dekorasi pun tidak sefilosofis sekarang. Akan tetapi, berkat iuran dari remaja-remaja yang bergabung beserta orang tua mereka, Lake’ Percussion mampu berkembang pesat menjadi seperti sekarang. Tak jarang, Lake’ Percussion juga didukung oleh sanggar Bina Tari Bayu Kencana (BTBK) dan Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Dispopar) Kota Probolinggo.

Untuk memenuhi kebutuhan Lake’ Percussion, kelompok ini melakukan banyak cara, seperti meminjam kentongan dari Ranusegaran, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo. Saking seringnya pinjam, pemilik kentongan meminta kentongan baru. Selain itu, Peking Laras Slendro dan satu kendang juga masih meminjam di Kecamatan Nguling.

Selain alat musik, kereta bagi Kelompok Musik Daul juga tak kalah penting. Awalnya, Asmad dan tim berencana untuk membuat kereta dari kayu, tetapi uang iuran tidak mencukupi, sehingga hal itu diurungkan.

Mereka berencana lagi membuat kereta besi yang ditarik. Lambat laun, mereka tak lagi memodifikasi kereta itu. Tak lagi ditarik, tapi dikendarai seperti mobil pada umumnya. Hal ini tentu saja membutuhkan uang yang lebih banyak lagi.

“Itupun iuran lho, ya. Cara iurannya itu, kami pinjam bank sekitar 5 jutaan. Jadi, kami musyawarah dengan orang-orang RT/RW karena butuh dana. BPKB (Buku Pemilik Kendaraan Bermotor) pun diagunkan. Tapi, tetap ditanggung bareng,” ujar Asmad secara terus terang.

Untuk kereta dan dekorasi, mereka tak hanya meminjam ke perseorangan. Tetapi, mereka meminjam uang ke bank juga. Jika ditotal dari awal, pinjaman mereka mencapai 80 juta rupiah. “Kalau ditotal dari awal, kalau digenapkan, mending beli Avanza,” kata Asmad bergurau dalam Bahasa Jawa.

Terkait dengan dekorasi, Lake’ Percussion tak main-main. Mereka mendatangkan dekorasinya langsung dari Desa Bangkes, Kecamatan Kadur, Kota Pamekasan, Madura. Jika biasanya menggunakan Barong Naga, Lake’ Percussion menggunakan Barong Burung.

Sedangkan burung yang dipilih adalah Burung Ababil, yaitu burung yang membantu Nabi Muhammad SAW saat perang Badar. Untuk desainnya, tak ada yang mengetahui wujud asli Burung Ababil. Semua hanya bergantung pada sejarah Islam yang menceritakan tentang burung itu dan kreativitas si pembuat desain. Hal ini juga berarti bahwa Lake’ Percussion tak meninggalkan asal-usul mereka sebagai Komunitas Musala. Bahkan hingga sekarang, lagu yang mereka bawakan banyak yang berunsur Shalawat.

Ciri khas dari Lake’ Percussion adalah budaya Pendalungan, atau orang Probolinggo campuran dari Madura dan Jawa. Penggabungan ini terkesan kasar. Tidak peduli suku Madura ataupun Jawa, bahasa yang mereka gunakan di Probolinggo cenderung kasar. Jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain di sekitarnya.

“Awalnya musik Islami dari Shalawatan. Sekarang, jadi Pendalungan. Jawanya ada. Maduranya juga ada,” kata Fajar.

Ketika ditanya tentang jati diri orang Probolinggo, Asmad mengaku tak tahu. Dia dan rekannya masih mencari jati diri Probolinggo. Seperti apa Probolinggo yang asli. Asmad juga mendapat arahan dari pemimpin sanggar BTBK Peni Priyono (62). Peni menyarankan Lake’ Percussion harus terus membuat musik mereka sendiri. Jika hal ini terus berlangsung, jati diri Probolinggo akan terkuak sendiri.

Lake’ Percussion sudah cukup berpengalaman mengisi acara. Mereka juga rutin diundang oleh Pemerintah Kota Probolinggo untuk memeriahkan pagelaran, di antaranya saat Hari Jadi Kota Probolinggo, Semipro (Seminggu di Kota Probolinggo), dan Petik Laut Tanjung Tembaga.

Menurutnya, Lake’ Percussion menjadi pengisi acara merupakan suatu prestasi bagi mereka. Ada dua pagelaran yang tak bisa mereka lupakan, yaitu Parade Musik Festival 2019 di Gedung Kesenian dan Food Festival 2020 di BJBR (BeeJay Bakau Resort). Tak perlu khawatir, Lake’ Percussion juga memeriahkan acara yang skalanya tak terlalu besar, seperti khitanan dan pernikahan. Jika Anda berminat, bisa menghubungi Ilham Risqhani dengan nomor +6285-2181-02648.

“Yang saya harapkan kedepannya nanti untuk musik tradisional semakin bertambah banyak peminatnya dan semakin berkreasi,” ujar Fajar.

Laki-laki yang mengenakan jaket berwarna hitam itu juga menambahkan, bahwa Kota Probolinggo perlu mengadakan lomba-lomba yang mengangkat kesenian tradisional asli Probolinggo. Agar kesenian yang telah diwariskan nenek moyang ini, tak hilang ditelan modernitas. Dikutip dari beberapa sumber dan todatodays.com

Reporter : Nanang – Salsabilah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed