oleh

Menelusuri Misteri Kraton Mojo Kediri

Belakangan ini kita dikejutkan dengan banyaknya bermunculan kerajaan-kerajaan baru yang mengklaim wilayah kekuasaannya seluruh dunia. Salah satu kerajaan baru itu berada di daerah Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, bernama Keraton Agung Sejagat.

Namun, setelah dideklarasikan dengan menggelar kirab besar-besaran, Sang Raja dan Si Ratu akhirnya dipindahkan ke istana jeruji besi di Mapolda Jawa Tengah, lantaran diketahui bahwa pendirian kerajaan tersebut adalah sebuah modus penipuan.

Kali ini Tim Optimis TV juga akan menelusuri dan mengulas tuntas keberadaan sebuah kraton di Kabupaten Kediri, yang dikemas dalam sebuah acara KRAMAT ( Kisah Ringkas Asal Nama Tempat )

KEDIRI | optimistv.co.id – Kediri yang dahulu merupakan sebuah kerajaan besar, ternyata juga mempunyai satu desa bernama Kraton. Desa Kraton berada di wilayah Kecamatan MojoKabupaten KediriJawa Timur.di Desa Kraton, hingga kini masih memiliki berbagai misteri dan perbedaan kepercayaan.

Kades Kraton, Taukhid, didampingi Fauzi, Bagian Operator Desa Kraton

Menurut Kepala Desa Kraton, Taukhid, didampingi Fauzi, Bagian Operator Desa Kraton, menerangkan, dari cerita yang dipercayai warga setempat, desa tersebut dahulunya merupakan hutan belantara yang sangat wingit atau keramat, dan dikenal dalam istilah Jawa “jalmo moro, jalmo mati“ atau boleh dikata, siapa saja orangnya yang masuk kehutan tersebut, maka dia akan pulang hanya tinggal nama, alias dapat dipastikan mati disitu.

Konon di dalam hutanini adalah sebuah Keraton Dedemit (Kerajaan para lelembut), sehingga setelah berhasil dibabat dan ditempati oleh kaum manusia, akhirnya daerah ini diberikan nama Kraton.

Masyarakat mempunyai kepercayaan bahwa yang babat Desa Kraton ini memiliki kesaktian luar biasa, sehingga mampu menaklukkan bangsa lelembut. Sosok linuwih tersebut dikenal dengan nama KH. Hasan Anom Besari.

Sang kyai ini kabarnya berasal dari wilayah Kasultanan Cirebon, Jawa Barat, dan merupakan keturunan dari sosok yang telah berhasil babat daerah Ponorogo, yakni KH. Hasan Besari, yang kini makamnya berada di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Ponorogo, Jawa Timur.

Kantor Desa Kraton, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri

Hasan Anom Besari juga dikenal dengan nama Mbah Yai Ichsan. Semasa hidupnya beliau menikah dengan seorang wanita keturunan dari Kerajaan Mataram yang tidak diketahui nama aslinya, namun lebih dikenal dengan nama Nyai Fatimah.

Awalnya Mbah Yai Ichsan yang sedang berguru di daerah Blitar, kemudian disuruh melakukan pertapaan.Setelah selesai, beliau disuruh mengembara dengan menaiki sebuah Gethek, yaitu perahu yang terbuat dari bambu, untuk menyusuri sungai Brantas, namun tidak diperbolehkan diayun atau dijalankan sendiri.

Mbah Ichsan diberitahu, apabila perahu yang dinaikinya tersebut nanti berhenti, maka disuruh turun dan berjalan ke arah barat dan menempati daerah tersebut. Alhasil, Gethek yang dinaiki Mbah Yai Ichsan berhenti di sebuah daerah Kediri, danakhirnya menemukan kerajaan lelembut tersebut.

Setelah berhasil babat alas (hutan) dengan mengalahkan bangsa jin yang berkuasa di daerah itu, kemudian Mbah Ichsan membangun sebuah masjid dan mendirikan pondok pesantren salafiah. Kini masjid tersebut diberi nama Masjid Al Hasan.

Mimbar besar berukiran peninggalan KH. Hasan Anom Besari di dalam Masjid Al Hasan

Banyak cerita dari masyarakat Kraton yang menyebutkan bahwa kalau ada orang tidur di dalam masjid, dapat dipastikan ada bangsa gaib yang memindahkannya ke lain tempat, seperti di kuburan, atau di bawah pohon Sawo. Sehingga tidak satupun ada warga atau santri yang berani tidur di dalam masjid.

Kepala Desa Kraton, Taukhid juga menjelaskan, hingga kini masih ada prasasti peninggalan dari Mbah Yai Ichsan, atau KH. Hasan Anom Besari, yaitu sebuah masjid yang dibangun beliau. Meskipun di Masjid Al Hasan tersebut dilakukan renovasi dan perluasan, namun masjid induk masih asli semuanya.

Di dalam masjid juga ada sebuah bedug dan kentongan yang masih asli dari jaman dahulu. Selain itu, juga ada sebuah mimbar besar yang biasanya digunakan untuk Khutbah Jum’at. Konon mimbar berhiaskan penuh ukiran tersebut dibuat hanya sehari langsung jadi.

Menurutnya, setelah Mbah Yai Ichsan wafat, maka Masjid Al Hasan dilanjutkan oleh KH. Umar Junaidi bin KH. Hasan Anom Besari, kemudian diteruskan oleh adik kandungnya yang bernama KH. Amin Ichsan. “Dan kini kepengurusan masjid telah terbentuk takmir, yang diketuai oleh Nur Muwafiq, atau lebih dikenal dengan nama Bapak Makin,” kata Taukhid.

Bedug dan kentongan peninggalan KH. Hasan Anom Besari di Masjid Al Hasan

Selain digunakan untuk pendidikan diniyah atau TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an), di area Masjid Al Hasan Kraton juga didirikan lembaga pendidikan formal, seperti RA Kusuma Mulia, MI Al Hasan, dan MTs Al Hasan.

Ditambahkan Taukhid, meskipun yang babat Desa Kraton adalah Mbah Yai Ichsan, tetapi ketika wafat beliau sedang berada di daerah Blitar, sehingga beliau dimakamkan di Blitar. Sedangkan anak turunnya yang sudah meninggal dunia dimakamkan di barat Masjid Al Hasan.

Sementara itu, beberapa warga ada yang meyakini bahwa lokasi tepatnya Keraton Dedemit,yaitu sebuah tempat yang akhirnya dijadikan rumah oleh Mbah Yai Ichsan bersama Nyai Fatimah. Namun ada juga yang mempercayai kalau Keraton Dedemit itu dahulu berada di area sebuah Dam atau bendungan di sungai, yakni Kali Bruni, dan dikenal dengan nama Kedung Makloem.

Rumah KH. Hasan Anom Besari yang sudah direnovasi

Semenjak sistem pemerintahan di wilayah Indonesia yang awalnya mayoritas berupa kerajaan-kerajaan dirubah menjadi satu kesatuan, yaitu Republik Indonesia, di Desa Kraton sampai sekarang telah beberapa kali mengalami perggantian lurah atau kepala desa.

Menurut Taukhid, Kepala Desa Kraton, hingga kini di kalangan warga di desa ini juga terdapat berbagai versi cerita mengenai keberadaan sungai atau Kali Bruni yang membelah desa dari barat sampai timur. Sebagian warga bercerita bahwa dinamakannya Kali Bruni karena pada jaman dahulu sering ada yang melihat beberapa Kuda Sembrani gaib mandi disitu.

Ada juga yang mengatakan bahwa Kali Bruni merupakan sebuah jalan dari seekor ular raksasa yang bersemayam di Gunung Wilis, bernama Bruni. Konon, ular raksasa itu ada dua ekor, yakni bernama Bruni dan Bruno. Ketika turun dari gunung, kedua ular raksasa tersebut melewati jalan berlainan. Bruni lewat sungai di Kraton, sedangkan Bruno memilih jalan di sungai yang berada di selatan GOR Jayabaya Kediri, dan dikenal dengan nama Kali Bruno.

Kedua ular raksasa Bruno dan Bruni kabarnya setiap bulan Syuro dalam penanggalan Jawa, atau bulan Muharram, selalu turun dari gunung melalui kedua sungai tersebut. Namun hingga kini tidak ada yang tahu apa dan kemana mereka pergi.

Di kalangan warga setempat ada mitos berbeda dengan keberadaan Kali Bruni, sebagian mempercayai kalau air di sungai tersebut mampu menyembuhkan berbagai penyakit, sehingga banyak yang mandi guna mengobati penyakitnya.

Namun ada pula cerita bahwa Kali Bruni sangat misterius dan tidak boleh digunakan mandi oleh orang dari luar Desa Kraton, khususnya di area Dam atau bendungan yang dinamakan Kedoeng Makloem. Karena ada mitos ketika ada orang luar desa mandi disitu maka dapat dipastikan menjadi celaka, bahkan ada yang pernah kalap atau hilang, ada pula yang hanyut dan meninggal dunia.

Kepala Desa Kraton, juga menjelaskan, dari tulisan yang ada di Kedoeng Makloem ini dibuat pada tahun 1938, atau sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia. Jadi bangunan tersebut merupakan peninggalan dari Penjajah Belanda.

Kedoeng Makloem yang dipercaya dahulu sebagai tempat Kerajaan Dedemit

Sayangnya kondisi beberapa ruas bangunan sekarang ini sangat memprihatinkan, banyak yang tergerus air, dan sebagian lagi sudah ada tanggul di pinggir sungai yang longsor. Oleh karena itu, Pemerintah Desa Kraton mengajukan untuk segera dilakukan renovasi.

Taukhid mengaku sangat khawatir apabila tidak segera direnovasi akan dapat membahayakan warga Desa Kraton, karena kondisi bagunan terlihat sudah rapuh, dan ketika musim hujan airnya selalu besar, lantaran menjadi arus pembuangan dari atas gunung.

Kades Taukhid juga berencana memanfaatkan area Kedoeng Makloem tersebut menjadi sebuah destinasi wisata andalan Desa Kraton. Saat ini di tempat itu juga sudah dimanfaatkan oleh warga setempat untuk mendirikan sejumlah warung, dan menjadi ramai dikunjungi warga.

Ditambahkannya, ketika memasuki waktu petang, pada jaman dahulu jarang ada orang yang berani melintas di Kedoeng Makloem, karena dikenal sangat angker atau wingit. Namun sekarang mitos tersebut sudah mulai memudar, dan sebaliknya malah ramai digunakan warga untuk bersantai dengan ngumpul bareng di warung-warung.

Kades Kraton, Taukhid, bersama Tim Optimis TV di depan warung area Kedoeng Makloem

Saat ini Desa Kraton sudah berkembang pesat, bahkan semenjak kepemimpinan desa dipegang oleh Taukhid, desa yang mempunyai luas 523 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 4.467 jiwa ini memiliki banyak prestasi.

Salah satu prestasi membanggakan dari desa yang mempunyai tiga dusun, yaitu Dusun Kraton Krajan, Kasreman dan Dusun Tanjung ini adalah terpilihnya Desa Kraton sebagai salah satu Desa Siaga yang mewakili Kabupaten Kediri untuk perlombaan tingkat nasional.

Pesatnya perkembangan dari desa yang sebagian daerahnya berada di pegunungan tersebut juga membuat beberapa perguruan tinggi swasta maupun negeri yang memilih Desa Kraton untuk dijadikan tempat Kuliah Kerja Nyata – Belajar Bersama Masyarakat atau KKN-BBM.

Bahkan Universitas Airlangga Surabaya juga menjalin kerjasama dengan Desa Kraton, Kecamatan Mojo untuk dijadikan KKN-BBM Tematik dengan fokus utama Kesehatan Umum bagi mahasiswanya periode 2017-2021.

Kepala Desa yang merupakan suami dari Bidan Sukamti, yang bertugas di Puskesmas Mojo ini berharap dengan adanya KKN-BBM Tematik ini dapat menunjang perkembangan desa, sekaligus menjadi sarana untuk menerapkan bidang keilmuan para mahasiswa bersama masyarakat setempat dan sekitarnya.

Masjid Al Hasan Kraton

Kepala Desa Kratonyang baru saja dilantik untuk jabatan keduanya ini dikenal sangat supel dan ramah, serta selalu mengutamakan pelayanan masyarakat, tanpa peduli siang atau malam, bahkan hujan pun tidak pernah dihiraukan. Karena bagi Taukhid jabatan kepala desa merupakan amanat untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada rakyat.

Bapak dari tiga anak ini juga selalu rutin mengunjungi warga untuk diajak membangun Desa Kraton tercinta secara bersama-sama. Taukhid juga menghimbau kepada masyarakat untuk tidak terbawa arus politik secara berkepanjangan, sehingga tidak ada lagi istilah duhulu mendukung dan memilih siapa ketika pilkades.

Reporter : Mas Jay – Edy Siswanto

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. maaf ralat min, kh hasan anom dan yai ichsan itu dua orang berbeda (narasumbernya sepertinya kurang valid memberikan informasi)

News Feed