oleh

Jatim Masih Devisit Kedelai, Ternyata Ini Penyebabnya

SURABAYA | optimistv.co.id – Produksi kedelai di Indonesia termasuk Jawa Timur kerap mengalami defisit sehingga pemenuhan kebutuhan komoditas itu sangat bergantung pada produk impor.

Kondisi tersebut menyebabkan kelangkaan produk turunan kedelai di pasaran Jatim seperti tahu dan tempe sejak akhir 2020 hingga saat ini. (Dikutip dari solopos.com)

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Dr. Ir. Hadi Sulistyo, M.Si mengatakan produksi kedelai Jatim pada 2020 tercatat hanya 57.235 ton.

Sementara tingkat konsumsinya mencapai 447.912 ton sehingga defisit atau kekurangan sebesar 390.677 ton.

“Kedelai selalu minus karena merupakan tanaman subtropis, kalau menanam membutuhkan biaya yang lumayan besar sehingga petani beralih ke tanaman komoditi lain seperti padi dan jagung,” jelasnya, Senin (4/1/2021).

Dr. Ir. Hadi Sulistyo, M.Si Kadispertan Prov.Jatim.

Dia menambahkan, petani lebih memilih menanam tanaman padi dan jagung karena dianggap lebih menguntungkan dari sisi biaya usaha tani, apalagi tanaman kedelai selama ini kurang mendapatkan insentif dari pemerintah.

“Kendala lain dalam budidaya tanaman kedelai ini adalah penurunan luas panen akibat alih fungsi lahan ke nonpertanian seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Di samping itu, pada 2019 dan awal 2020 terjadi kemarau panjang membuat luas panen kedelai turun,” jelasnya.

Menurut Hadi, banyaknya kedelai impor selama ini yang harganya juga lebih murah pun menjadi penyebab petani tidak menanam kedelai.

Meskipun harga acuan berdasarkan Permendag Noor 27/M-DAG/PER/5/2017 tentang penetapan harga acuan pembelian di petani untuk kedelai Rp 8.500/kg.

“Tapi pada awalnya harga jual kedelai di lapangan sekitar Rp6.500 – Rp7.000/kg bergantung pada mutu, ukuran biji kedelai yang beragam dan tercampur varietas lain, di samping produktivitas kedelai di lahan kering sangat rendah baru berkisar antara 1 ton – 1,5 ton/ha, “jelasnya.

Sementara itu, terkait kelangkaan kedelai yang terjadi saat ini, lanjut Hadi, diduga akibat kondisi cuaca kering di Amerika Serikat sebagai produsen dan menyebabkan harga kedelai naik, serta adanya gelombang kedua Covid-19 di banyak negara produsen kedelai yang menyebabkan terhambatnya pasokan ekspor maupun impor.

“Distribusi antar wilayah di Indonesia mulai tersendat karena mulai ada pembatasan, juga adanya daya beli yang turun dengan harga yang terkontraksi, ”imbuhnya.

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, total produksi kedelai Jatim pada 2020 mencapai 57.235 ton dari luas lahan panen 37.378 ha. Dari jumlah itu, konsumsi Jatim mencapai 447.912 ton.

Sentra tanaman kedelai di Jatim terbanyak ada di wilayah Banyuwangi, Jember, Lamongan, Nganjuk, Bojonegoro, Blitar, Trenggalek, dan Pasuruan.

Dia menguraikan proyeksi tanaman kedelai di Jatim untuk tahun ini masih ada potensi pertumbuhan seiring dengan kondisi musim penghujan. *Yakni dengan luas panen 2021 mencapai 75.539 ha atau naik dibandingkan luas panen pada 2020 yaitu 37.378 ha,” pungkasnya.

Reporter : Hadi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed