oleh

DPR RI, Sadarestuwati Tinjau Dam Sipon

JOMBANG | optimistv.co.id – Sadarestuwati, M.KP melakukan kunjungan kerja meninjau Dam Sipon yang disinyalir menjadi penghambat surutnya air sungai jaringan avor Watudakon. Lambatnya aliran sungai itu, diduga menyebabkan banjir yang melanda lingkungan Desa Jombok, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang dengan Desa Bekucuk, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, makin parah, dalam durasi lama.

Lamanya durasi banjir, membuat warga emosional, karena mayoritas rumah warga terendam air setinggi satu meter, yang menjadikan warga harus mengungsi untuk mencari tempat aman hingga sampai dua pekan. Tinggi air juga dipicu oleh tingginya curah hujan yang terjadi beberapa hari ini.

Menurut M Soleh, warga Desa Jombok, adanya bangunan Dam Sipon yang dibangun Track Rest dalam tahun 2020 lalu itu menjadi penyebab air sungai dari avor Watudakon yang melalui lingkungan Dusun Beluk, Desa Jombok menjadi lamban.

Kelambanan itu, menyebabkan banjir yang melanda wilayah perbatasan Kabupaten Jombang – Mojokerto berlangsung makin lama.

“Banjir tahun ini tidak seperti biasanya. Selama ini, sebelum ada Dam Sipon air mengalir dengan cepat dan lancar,” jelas Soleh, Jum’at (22/01/2021) kepada awak media usai mengawal kunjungan dari DPR RI.

Sadarestuwati didampingi Muhammad Rizal Kepala BBWS Brantas Jawa Timur dan Indah Kusuma Hidayati, Kepala Satker Pengelolaan Jaringan Sumber Air (PJSA) BBWS Brantas Jawa Timur menyaksikan secara langsung keberadan dan fungsi bangunan Track Rest tersebut.

Menurut pengamatan dan laporan yang mereka terima, penyebab lamanya banjir tidak lekas surut karena beragam sampah yang terangkut bersama derasnya air sungai. Menurut Indah Kusuma Hidayati pembangunan Track Rest bertujuan untuk menyaring sampah-sampah agar tidak lolos dan tidak masuk di Dam Sipon yang mengalir di bawah sungai Brantas.

“Beragam sampah itu berupa kayu besar, sampah limbah keluarga seperti bantal, dan peralatan rumah tangga, bercampur dengan enceng gondok dan rerumputan lain. Namun yang paling berbahaya adalah sampah bawah, yang mengendap di dasar sungai. Sampah ini  membahayakan saluran di bawah sungai Brantas. Sebab itu Track Rest ini dibangun,” urai Indah.

Posisi bangunan Track Rest berada merupakan bangunan kontruksi beton permanen membentang di sungai Sipon sejauh sekitar 20 meter, terdiri dari 7 lubang kisi-kisi.  Pada tiap kisi terpasang saringan besi serupa ram kokoh dengan lebar 10 x 20 cm setinggi 3 meter lebih. “Tujuan pembangunan Track Rest ini untuk menahan beragam sampah,” tambah Indah.

Sementara itu Anggota Komisi V DPR RI mengaku pembangunan Track Rest atas permintaan masyarakat, yang bertujuan menyelamatkan Dam Sipon yang mengalir di bawah sungai Brantas.

Menurutnya, keberadaan Track Rest bukan menjadi pemicu terlambat surut banjir, sehingga mengakibatkan warga Jombok dan sekitarnya terendam hingga dua pekan, di awal Januari lalu.

“Kami datang memberikan solusi dan mencari alternatif, atas kejadian banjir kemarin. Daerah ini memang daerah banjir, ditambah curah hujan cukup tinggi. Problemnya, masyarakat kita membuang sampah di sungai. Untuk itu, Pemerintah desa , media pers dan saluran komunikasi lainnya, untuk bersama-sama bersosialisasi, ayoo….mengajak masyarakat kita untuk tidak membuang sampah di sungai.  Sebab, dampaknya kita semua yang merasakan,” kata Mbak Estu, sapaan akrab Anggota DPR RI asal Jombang ini.

Menanggulangi banjir jangka pendek, lanjut Mbak Estu, akan dipasang saringan sampah agar tidak menyumbat saluran air di Track Rest. “Secata teknis akan dilakukan oleh pengelola jaringan sungai brantas, atau BBWS Brantas,” tambahnya.

Sementara itu, Muhammad Rizal menyampaikan kepada awak media, ke depan mekanisasi cara pengambilan sampah sebelum masuk di track rest akan dilakukan. Untuk sementara masih dipasang saringan agar sampah tidak lolos ke saluran sungai sipon yang mengalir di bawah sungai brantas.

“Kita akan membuat piket petugas untuk mengambil sampah didukung alat berat. Selain itu, kita akan memperkecil areal yang mengganggu saringan Dam Sipon, mencari solusi, apakah akan membentuk saluran lain menuju sungai Brantas atau memperlebar Track Rest,” ucapnya.
Pengalaman tahun 2019 lalu, imbuh Rizal, Dam Sipon yang lewat di bawah sungai Brantas terhambat aliran ainya karena sampah bawah menumpuk.

“Sampah itu tidak bisa dibersihkan secara mekanik. Kemarin kita melibatkan Maninir, tim khusus yang bisa menyelam untuk mengambil sampah dalam, yang mengendap di bawah sungai, ungkap Muhammad Rizal Kepala Balai BBWS Brantas Jawa Timur,” pungkasnya.

Reporter : Budi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed