oleh

Cerita Seorang Mahasiswa di Desa Lapa Laok Jual Pentol untuk Biaya Kuliah

SUMENEP | optimistv.co.id – Berstatus sebagai mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah tidak membuat Muhammad Dhofir (27), warga Dusun Bujaan, Desa Lapa Laok, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep malu berprofesi sebagai penjual pentol.

Berbekal tekad untuk membiayai kuliahnya, mahasiswa semester akhir Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) di STIT AQIDAH USYMUNI TERATE, Kabupaten Sumenep itu, setiap harinya berjualan pentol dirumahnya, di Jln. Raya Pantai Lombang, Desa Lapa Laok, Kecamatan setempat.

“Sudah lima bulan saya jualan pentol di sini. Alhamdulilah, hasilnya bisa buat membayar biaya kuliah dan membiayai keluarga kecil saya,” kata Muhammad Dhofir saat ditemui di tempat jualannya. Rabu (27/05/2020) siang.

Dhofir panggilan akrabnya, berjualan pentol tidak hanya dirumahnya namun juga dengan sistem online free ongkir, hal itu dilakukan untuk memuaskan para pelanggannya.

“Untuk memuaskan pelanggan saya tidak hanya menjual pentol dirumah namun juga dengan memakai sistem online dan free ongkir,” ujarnya.

Kenekatan Dhofir berjualan Pentol lantaran dia merasa iba terhadap kedua orang tuanya yang sudah tua. “Orang tua saya sudah tua sehingga tidak mungkin saya bergantung kepada orang tua saya,” ungkap Dhofir.

Setiap harinya Dhofir mangaku mendapatkan omzet kotor Rp 50.000 hingga Rp 60.000, yang masih dibagi tiga dengan saudaranya.
Dengan hasil itu Dhofir bisa membiayai kuliah serta kebutuhan sehari-harinya.

Dhofir tidak malu jika saat berjualan pentol ketemu dengan teman kuliahnya. Dia malah percaya diri. Bahkan teman-teman kuliahnya diajak untuk jajan membeli pentolnya.

“Awalnya saya malu karena pekerjaan ini tidak bergengsi, tetapi mau tidak mau harus pede saja. Malah sekarang sudah bayak teman-teman jajan di sini, dan puji tuhan banyak yang jajan di sini,” ungkap Dhofir.

Kendati lelah berjualan pentol dari pagi sampai sore, Dhofir merasa bangga bisa membiayai kuliah dengan hasil keringatnya sendiri. Setelah berjualan pentol, ust Dhofir kemudian kuliah sampai malam hari.

Dhofir juga merasa bahwa jiwanya sudah biasa berwirausaha. Untuk itu, dia lebih senang bekerja di lapangan ketimbang bekerja di belakang layar.

“Kalau jualan untungnya banyak dan bisa berinteraksi dengan banyak orang, bahkan saya dulu juga pernah menjual es keliling di sekolah-sekolah,” ungkapnya.

Selain itu, Muhammad Dhofir dikenal sebagai salah satu pemuda yang aktif di Lembaga Pendidikan di desanya. Sebab, dia juga membantu mengajar di Sekolah Madrasah di kediamannya.

“Alhamdulillah berkat rahmat allah swt saya masih diberi kesehatan dan kemampuan untuk bisa mengajarkan sedikit ilmu saya kepada anak-anak yang berada di desa saya,” tukasnya.

Setelah lulus kuliah, Muhammad Dhofir berencana akan meningkatkan usaha jual pentolnya dan melanjutkan pendidikannya ke s2, sambil lalu mencari pekerjaan sesuai dengan jurusan kuliahnya.

Reporter : Amien

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed